PENDAHULUAN
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik awal tekad bangsa Indonesia untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Kemerdekaan bukan merupakan tujuan akhir tetapi meruapakan sebuah jembatan emas menuju cita-cita luhur dari bangsa ini.
Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki karakteristik budaya yang plural dan kompleks. Pluralitas budaya itu tercermin dalam aneka ragam etnik, bahasa, agama, dan adat istiadat yang hidup dan berkembang diberbagai daerah diseluruh Indonesia. Kata pengamat politik yang bernama Ben Anderson Sejarah Indonesia adalah sejarah para pemuda yang tentunya para pemuda Indonesia yang merupakan salah satu aset penting menuju indoneia yang lebih baik dan lebih maju lagi.
Nasionalisme adalah salah satu sikap kecintan kita terhadap bangsa dan Negara yang kita diami, sebuah semangat dan kecintaan kita untuk tetap mempertahankan kesatuan Negara kita. Salah satu jalan untuk menunnjukkan akan kecintaan itu adalah dengan tidak membiarkan bangasa penjajah (asing) melakukan agresi, invasi dan bahkan ekploitasi terhadap bangsa kita baik dari segi teritorial, ekonomi social dan budaya..
Berkaca dari perjuangan pemuda mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966 sampai 1998 tentunya bukan sedikit waktu dari hidup mereka, mereka sisihkan untuk perjuangan demi bangsa dan negara. Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu penjajah Belanda sebagai musuh bersama (common enemy) telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan, tentunya bukan hanya dengan laras senjata akan tetapi melalui advokasi dan propaganda yang secara terus menerus dilakukan sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.
Berbeda halnya dengan masa dahulu dimana yang dihadapi rakyat indonesia adalah para penjajah asing. Sekarang yang dihadapi oleh bangsa indonesia saat ini adalah suatu era yang dinamakan Era Globalisasi. Era Globalisasi ini lebih membuka peluang untuk meningkatkan partisipasi individu yang unggul untuk lebih berprestasi, memungkinkan munculnya keunggulan individual yang dapat memberikan sumbangan kepada kemakmuran individu dan masyarakat. permasalahan bangsa yang datang bertubi-tubi saat ini, tidak bisa diselesaikan dengan tuntas, bermula dari tidak konsistennya kita dalam mempedomani dan menjalankan nilai-nilai nasionalisme tersebut. Arus globalisasi yang maha dahsyat mulai menyeret pemuda kita pada lembah hedonisme atau karena minimnya perhatian dan pembinaan pemerintah terhadap persoalan kepemudaan.Maka dari itu para Pemuda perlu merekontruksi kembali mindset dengan menggunakan sejarah sumpah pemuda dalam berbagai bidang terutama yang menyangkut hal kebangsaan. Agar potensi yang dimiliki pemuda sebagai aset bangsa dapat didayagunakan secara positif dan semaksimal mungkin untuk kemajuan bangsa ini. Adapun permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana merekontruksi Sejarah Sumpah Pemuda Dalam Mengaktualisasikan Jiwa Nasionalisme Mengahadapi Era Globalisasi?
TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan karya ini adalah untuk mengaktualisasikan jiwa nasionalisme melalui rekontruksi sejarah sumpah pemuda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi dan membangun bangsa ini menuju bangsa Indonesia yang lebih baik lagi seta tidak tertinggal dengan negara-negara maju lainnya.
METODE
Historical Study merupakan suatu ilmu yang mempelajari berbagai kegiatan manusia dikelampuan sehingga informasi masa lampau yang terekam dalam jejak-jejak yang ditinggalkan itulah yang menjadi esensi penelitian bagi mahasiswa sejarah, sejarawan, bahkan peneliti dengan disiplin ilmu lainnya. Dalam penelitian ini mendasarkan melalui tahap pengumpulan sumber berupa studi arsip dimana bangsa indonesia menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks dalam upaya menentukan format barupenyelnggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat menggunakan stusi arsip ini jika tidak memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan hal-hal dalam informasi. Selain itu studi arsip ini digunakan untuk menulis suatu peristiwa mendasarkan cara-cara yang lazim dilakukan sejarawan. Tahap selanjutnya adalah kritik sumber yang merupakan kegiatan untuk mendapatkan data yang tingkat kebenarannya atau kredibilitasnya paling tinggi dengan melalui seleksi data yang telah terkumpul. Yang pada tahap ini lebih ditonjolkan pada menyeleksi data-data mengenai sumpah pemuda dan era globalisasi yang terjadi sekarang ini. Selanjutnya adalah interpretasi yang merupakan usaha mengahubungkan dan mengkaitkan antara fakta sehingga menghasilkan satu kesatuan yang bermakna dari suatu peristiwa. Tahapan yang terakhir adalah penyusunan fakta-fakta dalam suatu sintesis utuh dengan memperhatikan prinsip realisasi, kronologis, dan didasarkan ada kaidah-kaidah penulisan sejarah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rekonstruksi Sejarah Sumpah Pemuda
Rekonstruksi peristiwa Sejarah itu adalah hasil pilihan dari butir-butir kejadian, yang sempat terekam dalam berbagai macam corak sumber sejarah. Sejarah tidaklah bisa diartikan sebagai usaha penonjolan jasa di masa lalu, yang boleh dipakai sebagai landasan politis untuk mendapatkan keuntungan di hari ini, meskipun hal ini sering juga dilakukan. Sejarah tidak pula sekedar kisah yang enak diceritakan sambil "menunggu beduk berbunyi" walaupun hiburan antiquariai bisa juga diberikan oleh kisah tentang masa lalu itu.
Di dalam ilmu sejarah dikenal adanya dua konstruk. Pertama, sejarah dalam arti objektif atau sebagai peristiwa. Kedua, sejarah dalam arti subjektif atau sebagai satu kisah. Konstruk pertama, dengan demikian merupakan peristiwa sejarah itu sendiri. Konstruk kedua adalah sejarah sebagai satu hasil rekonstruksi atas peristiwa yang telah atau pernah terjadi.
Secara metodologis pun, rekonstruksi sejarah dibangun atas sumber sejarah yang sama bisa jadi akan tampil dengan postur yang berbeda. Jadi, kalaulah terjadi perbedaan kontruksi atau bangunan sejarah atas satu peristiwa sejarah, bukanlah karena metodologinya sarat akan kepentingan kekuasaan tetapi besar kemungkinan adanya pendekatan berbeda dalam merekonstruksi peristiwa sejarah. Tampilan konstruksi yang berbeda dari suatu peristiwa sejarah, sah saja selama rekonstruksi tersebut didasarkan atas sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan baik yang sekarang ini ataupun yang akan datang.
Dalam hal ini Meninjau kembali Sejarah tahun 1928, bahwa gerakan politik kepemudaan itu dimulai atas penyadaran bahwa pemuda Indonesia harus bersatu dan perlunya satu organisasi pemuda Indonesia yang seasas, guna menyatukan kekuatan mereka, guna mencapai cita-citanya dan Sumpah Pemuda adalah jawaban tegas terhadap politik Devide At Impera pemerintahan kolonial Belanda.
Merekontruksi sejarah dan semangat sumpah pemuda dengan kondisi pemuda dan kondisi bangsa dalam konteks kekinian, sungguh kita belum melihat perubahan signifikan dan mendasar. Pemuda-pemuda dulu dihadapkan pada multikrisis akibat penjajahan, pemuda sekarang Secara sadar pemuda Indonesia sejak tahun 1900-an sudah melakonkan fungsi, peran dan porsinya sebagai penopang perubahan nasib bangsa. Pada dewasa ini, ketika pembelokan sejarah masih punya pengaruh yang dalam di fikiran banyak orang, ketika bangsa kita seolah-olah sudah kehilangan arah, dan juga ketika bangsa kita sedang dicabik-cabik rasa persatuan dan kesatuannya, maka memperingati Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus dan penting.
Bangsa ini memerlukan bahan bakar yang ekstra agar dapat memobilisasi penduduknya agar mau bangkit, bergerak dan selalu berusaha membangun diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Bahan bakar itu adalah para pemuda yang memiliki energi yang luar biasa dan semangat pantang menyerah. Oleh karena itu yang perlu ditonjolkan adalah sosok-sosok pemuda sebagai pejuang dan pahlawan sejati yang senantiasa belajar dan bekerja keras.
Tepatnya 28 Oktober 1928, pada Kongres Pemuda II pemuda Indonesia berikrar dan bersumpah dengan semangat persatuan untuk bangkit. Bangkit dan melepaskan diri dari kolonialisme, bangkit untuk memperjuangkan nasib bangsa, bangkit dan tegak sebagai bangsa yang berdaulat, kokoh dan mandiri. Dimana pada kongres ini dihadiri oleh berbagai utusan kepemudaan dari berbagai daerah mendeklarasikan semangat persatuan yang dituangkan dalam deklarasi sebagai berikut:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Api Sumpah Pemuda, yang begitu besar kobarannya dalam mempersatukan bangsa dan mengantar rakyat ke kemerdekaan, perlu dikobarkan lagi bersama-sama Intisari Sumpah Pemuda adalah Bhineka Tunggal Ika, yang mengandung pengertian bahwa walaupun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan aliran politik, tetapi tetap merupakan kesatuan bangsa, atau bangsa yang satu. Dengan kalimat lain, tercermin di situ satu konsep besar yang indah : kesatuan dalam perbedaan, atau berbeda-beda tetapi satu, atau persatuan dalam keragaman. Alangkah sejuknya isi yang tersirat didalamnya. Jadi Sumpah Pemuda mempunyai peran penting untuk mempersatukan rakyat, baik semasa pemerintahan kolonial Belanda maupun selama revolusi. Dan arti sejarah Sumpah Pemuda bagi perjalanan bangsa kita, maka sepatutnyalah kiranya bahwa kita semua tidak hanya “mengenang” peristiwa besar itu, melainkan juga merenungkan, dalam-dalam, betapa urgennya bagi kita semua untuk menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu di antara berbagai sarana pendidikan bangsa kita yang sedang “sakit” dewasa ini
Aktualisasi Jiwa Nasionalisme menghadapi era Globalisasi
Kemerdekaan Indonesia tidak dicapai dengan mudah, melainkan melalui jalan panjang berliku para pahlawan dan leluhur bangsa Indonesia. Apalagi kemerdekaan itu dicapai dengan peran pemuda pada saat itu. Sudah semestinya, generasi muda sekarang tetap mewarisi semangat nasionalisme yang tidak pernah mati dari para pendahulunya dalam usaha mengisi kemerdekaan Indonesia. Dan Kemerdekaan bukan merupakan tujuan akhir tetapi meruapakan sebuah jembatan emas menuju cita-cita luhur dari bangsa ini.
Menurut Ernest Renan yang sering disebut sebagai “Bapak Nasionalisme”, nasionalisme mempunyai arti suatu kehendak untuk bersatu (le desir detreensemble) sebagai bangsa. Kehendak itu tumbuh karena didorong kesadaran akan adanya riwayat atau pengalaman hidup yang sama dan dijalani bersama.
Merujuk pandangan Ernest Gellner tentang nasionalisme: nasionalisme adalah suatu teori legitimasi politik, yakni bahwa batas-batas etnik tidak harus berpotongan dengan batas-batas politik” (Gellner 1983: 1). Dengan kata lain, nasionalisme, menurut Gellner, merujuk kepada keterkaitan antara etnisitas dan negara. Nasionalisme adalah ideologi etnik yang dipelihara sedemikian sehingga kelompok etnik ini mendominasi suatu negara. “Or l’essence d’une nation est que tous les individus aient beaucoup de choses en commun, et aussi que tous aient oubliĆ© bien des choses.”: “Nasionalisme bukanlah bangkitnya kesadaran diri suatu bangsa : nasionalisme menemukan bangsa-bangsa dimana mereka tidak ada.”
Nasionalisme adalah salah satu sikap kecintan kita terhadap bangsa dan Negara yang kita diami, sebuah semangat dan kecintaan kita untuk tetap mempertahankan kesatuan Negara kita. Salah satu jalan untuk menunnjukkan akan kecintaan itu adalah dengan tidak membiarkan bangasa penjajah (asing) melakukan agresi, invasi dan bahkan ekploitasi terhadap bangsa kita baik dari segi teritorial, ekonomi social dan budaya..
Sikap nasionalisme menjadi sangat kuat mengembangkan kesetaraan, dan mengandung semangat pembebasan, sehingga merangsang pengikutnya berani mengorbankan dan meninggalkan dirinya (self-renunciation) demi loyalitas nasional. Memudarnya rasa kebanggaan bagi bangsa selama beberapa tahun belakangan ini, sesungguhnya disulut oleh menguatnya sentimen kedaerahan dan semangat primordialisme pascakrisis.
Adapun bentuk penjajahan inilah yang kini menjadi tantangan nasionalisme baru kita, yang bersama globalisasi seolah telah menjadi tamu tak diaundang dalam beranda teras rumah kebangsaankita. Derasnya globalisasi, ditambah dengan situasi multi-krisis yang tak kunjung reda, kita masih berada di terowongan gelap, dan belum tahu kapan pintu keluarnya, tampak sekali lebih banyak mendukung aksi pragmatisme.
Nasionalisme yang dimiliki oleh pemuda Indonesia sampai saat ini terus mengalami pasang surut. Berderetnya masalah kongkret yang lebih nyata menyangkut nasib kaum muda, lebih memerlukan prioritas penuntasan dan penanganan segera ketimbang membincangkan nasionalisme yang abstrak dan semu. Nasionalisme, naik-turun sesuai dengan situasi yang dihadapi, tetapi bangsa tetap berada pada kestabilan. Ketika nation jauh lebih penting dari nasionalisme, maka bentuk state juga tidak terlalu penting.
Ada pepatah dari seorang negarawan paman sam John F. Kennedy, yang berbunyi:
”Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu tetapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu”.
Sebuah ungkapan nasionalis, bahwa seorang warganegara hendaknya bertanya dulu pada dirinya, apa yang telah dia sumbangkan untuk negaranya.
Dalam konteks tersebut, peran dan transformasi nasionalisme pemuda atas semangat kebangsaan merupakan suatu keniscayaan agar nasionalisme kaum pemuda masa kini tidak dipertanyakan dan berharap pemuda mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa, yang ada malah pemuda itu sendiri jadi persoalan. Pemuda sebagai pewaris masa depan memiliki peran penting dalam menghadapi arus globalisasi ini, paling tidak pemuda harus memiliki, pertama, pemahaman yang baik dan benar akan hakikat dan makna globalisasi, berikut manfaat dan mudharatnya. Kedua, kepandaian dan kecerdasan pemuda dalam menyikapi dan memerankan diri di tengah arus globalisasi. Ketiga, faktor kemampuan pemuda untuk memperkuat jaringan kerjasama yang saling menguntungkan dan sinergis dengan berbagai komponen strategis dalam globalisasi. Dengan demikian, suatu rekonstruksi mengenai sumpah pemuda sangat diperlukan agar para pemuda indonesia saat ini memiliki semangat juang yang tinggi seperti semangat juang para pemuda terdahulu sehingga siap untuk mengadapi Era Globalisasi yang banyak sekali pengaruh yang ditimbulkan dan dapat merusak citra diri suatu bangsa. Ada pepatah lagi yang dapat menginspirasi dalam berjuang dan mengaktualisasikan jiwa nasionalis menghadapi era globalisasi.
“Pemuda adalah tulang punggung Negara. Karena itu masa depan negeri ini amat tergantung padanya. Jika ia tumbuh dan berkembang dengan baik maka bangsa ini pun kelak menjadi bangsa yang maju peradabannya dan sebaliknya jika ia tidak mampu berkembang akan habislah peradaban di negeri ini”.
KESIMPULAN
Dahulu bangsa Indonesia menderita karena penjajah, tetapi sekarang bangsa kita menderita karena ketidakberesan diantara bangsa Indonesia sendiri. Harusnya, masalahnya jauh lebih mudah karena kita tidak perlu berjuang mati-matian memanggul senapan untuk mengusir penjajah. Tetapi menjadi sulit karena bukan berjuang secara fisik tetapi non fisik seperti maraknya Arus globalisasi yang maha dahsyat mulai menyeret pemuda kita pada lembah hedonisme atau karena minimnya perhatian dan pembinaan pemerintah terhadap persoalan kepemudaan. Maka dari itu para Pemuda perlu merekontruksi kembali mindset dengan menggunakan sejarah sumpah pemuda dalam berbagai bidang terutama yang menyangkut hal kebangsaan. Agar potensi yang dimiliki pemuda sebagai aset bangsa dapat didayagunakan secara positif dan semaksimal mungkin untuk kemajuan bangsa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Jenny, Hardjatno. 2007. Memaknai Kembali Sumpah Pemuda. http://opinibebas.epajak.org/informatika/memaknai-kembali-sumpah-pemuda
.Kurnia,Ahmad Doli Amir. 2005.Gerakan dan Pemikiran Nasionalisme Kaum Muda (Pasang Surut Realitas Kebangsaan Kita). Pustaka Alvabet
Marham, Idrus. 2005.Pemuda dan Dinamika Kebangsaan: Potret Nasionalisme Kaum Muda di Tengah Arus Globalisasi dan Reformasi. DPP KNPI dan World Assembly of Youth (WAY)
Wariyanto, Agus. Menggugah nasionalisme pemuda. http://www.klikbca.com
Wijayanti, Putri Agus. 2009. Research Arsip Dan Bahan Pustaka. Surabaya: Unesa University Press
http://opinibebas.epajak.org/informatika/memaknai-kembali-sumpah-pemuda.
Harian Pikiran Rakyat, Jumat 27 Februari 2009
LAMPIRAN
BIODATA
Nama Lengkap : NOOR HIKMAH FAUZIAH
Nama Panggilan : EMA
NIM : 3101408047
Tempat Tanggal Lahir: DEMAK,25 AGUSTUS 1990
Jenis kelamin : PEREMPUAN
Jurusan : SEJARAH
Program Studi : PENDIDIKAN SEJARAH
Alamat :
1. Rumah : Jl.FLAMBOYAN II BLOK M/19 RT:05 RW: 05
Desa/kel: KATONSARI Kab/kota: DEMAK Kodepos 59516
2. Kost : RUMAISYA KOS
3. Telp/HP : 085641017796.
4. E-mail : ema_emul@yahoo.com
Motto Hidup : HIDUP SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT
Riwayat Pendidikan :
1. Ml SULTAN FATAH DEMAK Lulus tahun 2002
2. SMP NEGERI 1 DEMAK Lulus tahun 2005
3. SMA NEGERI 2 DEMAK Lulus tahun 2008
4. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Pengalaman Organisasi :
1. DPM FIS sebagai SEKRETARIS 1 tahun 2010
2. KIFS sebagai SEKRETARIS PSDM tahun 2010
3. UKMP sebagai ANGGOTA tahun 2010
4. HSC sebagai ANGGOTA tahun 2010
Pelatihan yang pernah di ikuti :
1. PELATIHAN SOFT SKILL
2. TRAINING LEGAL DRAFTING
3. TEKAD 1
4. TEKAD 3
LOMBA PENULISAN ARTIKEL ILMIAH SEJARAH
Rekonstruksi Sejarah Sumpah Pemuda Dalam Mengaktualisasikan Jiwa Nasionalisme Para Pemuda Menghadapi Era Globalisasi
oleh :
Nama : Noor Hikmah Fauziah
Nim : 3101408047
Prodi : Pendidikan Sejarah/ 2008
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2010
Rekonstruksi Sejarah Sumpah Pemuda Dalam Mengaktualisasikan Jiwa Nasionalisme Para Pemuda Menghadapi Era Globalisasi
Noor Hikmah Fauziah
Pendidikan Sejarah UNNES / Angkatan 2008
ABSTRAK
Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki karakteristik budaya yang plural dan kompleks. Pluralitas budaya itu tercermin dalam aneka ragam etnik, bahasa, agama, dan adat istiadat yang hidup dan berkembang diberbagai daerah diseluruh Indonesia
Nasionalisme adalah salah satu sikap kecintan kita terhadap bangsa dan Negara yang kita diami, sebuah semangat dan kecintaan kita untuk tetap mempertahankan kesatuan Negara kita. Salah satu jalan untuk menunnjukkan akan kecintaan itu adalah dengan tidak membiarkan bangasa penjajah (asing) melakukan agresi, invasi dan bahkan ekploitasi terhadap bangsa kita baik dari segi teritorial, ekonomi social dan budaya.
Adapun tujuan dari penulisan ini untuk mengaktualisasikan jiwa nasionalisme melalui rekontruksi sejarah sumpah pemuda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi dan membangun bangsa ini menuju bangsa Indonesia yang lebih baik lagi seta tidak tertinggal dengan negara-negara maju lainnya.
Historical Study merupakan suatu ilmu yang mempelajari berbagai kegiatan manusia dikelampuan sehingga informasi masa lampau yang terekam dalam jejak-jejak yang ditinggalkan itulah yang menjadi esensi penelitian bagi mahasiswa sejarah. Dalam penelitian ini mendasarkan melalui tahap pengumpulan sumber berupa studi arsip, kritik sumber dan tahap yang terakhir adalah interpretasi.
Arus globalisasi yang maha dahsyat mulai menyeret pemuda kita pada lembah hedonisme atau karena minimnya perhatian dan pembinaan pemerintah terhadap persoalan kepemudaan. Maka dari itu para Pemuda perlu merekontruksi kembali mindset dengan menggunakan sejarah sumpah pemuda dalam berbagai bidang terutama yang menyangkut hal kebangsaan.
Kata kunci : Nasionalisme, Sumpah Pemuda, Era Globalisasi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
ABSTRAK ii
DAFTAR ISI iii
PENDAHULUAN 1
TUJUAN 2
METODE 2
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rekonstruksi Sejarah Sumpah Pemuda 3
Aktualisasi Jiwanasionalisme Menghadapi Era Globalisasi 6
KESIMPULAN 8
DAFTAR PUSTAKA 9
LAMPIRAN............................................................................................... 10
Senin, 14 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar